Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Makin Eksis, Pengurus ARSSI periode 2022-2025 Resmi Dilantik

Inagurasi | Tangerang – Ketua Umum Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), melantik sejumlah pengurus ARSSI periode 2022-2025 di Mandaya Royal Hospital-Puri kawasan Metland Boulevard Lot C-3, Metland Cyber City Puri, Karang Tengah, Kota Tangerang, Kamis, (27/10/2022).

Sebagai upaya penyegaran organisasi dan maksimalkan misi dan misi serta program organisasi ARSSI (Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia) dilakukan pelantikan susunan pengurus baru.

drg. Ing. Ichsan Hanafi MARS., MH mengatakan tantangan pengurus ARSSI Pusat kedepan adalah bagaimana membuat agar rumah sakit swasta di Indonesia yang jumlahnya 1.900 bisa bergabung dengan ARSSI.

“Rumah Sakit Swasta di Indonesia itu ada sekira 1.900. Saat ini, yang bergabung dengan ARSSI baru 65 persen, yakni sebanyak 1.120 rumah sakit swasta. Jadi tantangannya adalah bagaimana teman teman dari rumah sakit lain bisa bergabung ke ARSSI,” ungkag drg. Ing. Ichsan Hanafi.

 

Ia menyebut tantangan ARSSI kedepannya adalah menghadapi regulasi dari kementerian yang regulasinya cepat berubah. Diantaranya medical reccord harus dalam sistem elekronik. Rumah sakit harus tergantung dengan BPJS dan setiap rumah sakit harus mempertahannkan mutunya sehingga bisa tetap bekerja sama dengan BPJS.

Akan tetapi kata  drg. Ing. Ichsan Hanafi yang akan menjadi konsentrasi penuh ARSSI saat ini adalah permintaan kenaikan tarif INA CBGs sebanyak 30 persen, mengingat lebih dari enam tahun belum dilakukan kenaikan.

“Pada 14 September 2022, ARSSI sudah melayangkan surat kepada Menteri Kesehatan. Isi pokok surat tersebut tentang permintaan kenaikan tarif INA CBGs, berdasarkan peraturan menteri Kesehatan no. 52 tahun 2016 tentang standar tarif pelayanan kesehatan dalam program jaminan Kesehatan (JKN) yang masih berlaku sampai saat ini mengingat lebih dari enam tahun belum dilakukan kenaikan,” terang drg. Ing. Ichsan Hanafi.

 

“Meski permintaan itu belum terealisasi  anggota ARSSI harus tetap bisa efektif dan efisien dalam memberikan pelayanan. Dan pada managemen diminta untuk bisa mengelola dan tidak boleh berlaku boros,” pesannya.

Karena, tambahnya, semua pasien yang dirujuk dari puskesmas masuk ke IGD dan lainnya harus di cover dengan BPJS . Kecuali pasien yang akibat dari bunuh diri, narkoba.

4 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sponsor

https://youtu.be/BAM30I7e0-Q