Desa Bulian Penghasil Madu Lebah Kele-kele Menjadi Pioner di Bidang UKM Buleleng by

Made Sudira menekankan kembali, jika cuaca mendukung dan ketersedian nektar bagi lebah mencukupi diperkirakan kelompoknya bisa panen madu sampai 2-3 kali dalam setahun. Rata-rata setiap panennya anggota kelompoknya bisa mendapatkan tambahan penghasilan kisaran 5,5 juta setiap panennya.

Terkait kualitas madu, Sudira menegaskan bahwa hasil madu dari kelompoknya diproses secara alami tanpa ada sentuhan kimiawi dan dijamin 100% kemurniannya. Jadi, madunya dijamin memiliki kualitas tinggi dan tahan lama kalau disimpan dalam kurun waktu yang lama.

“Karena proses panen madu secara alami, kami yakin kualitasnya bagus dan otomatis para pelanggan akan tetap berlangganan termasuk juga sebagai media promosi kepada masyarakat lainnya bahwa kami menjual madu kele murni disini,” imbuhnya.

Untuk pemasaran, madu dari kelompoknya sudah masuk pangsa pasar hampir seluruh Kabupaten di Bali. Bahkan dari kelompoknya tidak pernah menyimpan stok madu terlalu lama karena pesanan yang cukup tinggi, malah sering kekurangan stok. Oleh karena itu, pihaknya akan mengkoordinir anggota untuk bisa menambah sarang lebah lagi.

“Kami akan terus mensupport anggota kelompok ini agar menambah rumah lebah setiap tahunnya sehingga ketersediaan madu bisa lebih banyak lagi. Selain itu teknik panen dan pasca panen akan terus ditekankan juga demi mempertahankan kualitas madu itu sendiri,” tegasnya.

Made Sudira mempercayai madu kele-kele binaan kelompoknya sangat bagus bagi kesehatan dan dipercaya juga bagus untuk kosmetik karena kemurnian dari madu itu sendiri.

Untuk harga jual madu binaannya, kelompoknya mebuat kemasan botol besar kapasitas 620 ml dengan harga Rp. 350 ribu dan kemasan dengan botol kecil kapasitas 300 ml dengan harga Rp. 150 ribu.

Budidaya lebah madu klanceng ini memberi berkah tersendiri dari salah satu anggota kelompoknya yakni Kadek Budiasa. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani ini menuturkan, awalnya cuma iseng ternak lebah madu klanceng.

Berawal dari nemu sarang lebah klanceng saat berkebun, dirinya mencoba untuk membuat tempat sarang lebah di rumah dan menghasilkan sebotol madu kala itu yang kemudian langsung dijualnya. Mulai sejak itu, Kadek Budiasa semangat ternak madu klanceng dan saat ini sudah mempunyai kurang lebih 100 tempat sarang lebah di rumahnya.

Kadek Budiasa mengungkapkan, dalam mempromosikan madunya ia hanya melalui media sosial saja. Beberapa kota besar di Bali seperti Denpasar, Gianyar dan sebagian besar wilayah di Buleleng sudah pernah merasakan madu klancengnya.

Melalui hasil budidaya ternak madu klanceng ini, dirinya mendapatkan penghasilan tambahan kurang lebih 15 juta pertahunnya. “Astungkara ada tambahan penghasilan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” pungkas Budiasa.

Penulis: ds

5 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sponsor

https://youtu.be/BAM30I7e0-Q