Dies Natalis ke- XXVI, STIE Ganesha Selenggarakan Seminar Bertajuk ‘Strengthening Role of Higher Education in the Industrial Revolution 4.0 and 5.0 Society’

Prof. Dr. Rushami Zain membahas tentang peluang dan tantangan peningkatan daya saing ekonomi pada era 4.0 menuju era 5.0. Dia memberikan gambaran riel, tentang bagaimana  perusahaan yang tidak mampu mengadaptasi diri dengan perkembangan yang terjadindie out dari pasar. “Perubahan terjadi ketika new digital technology and business models (4.0) mempengaruhi proposisi nilai dari barang dan jasa yang ada. Sehingga menuntut perlunya dilakukan penilaian kembali (re-evaluation).

Di era desruptive ini akan banyak industri yang gulung tikar karena tidak mampu merespons perkembangan teknologi yang sangat drastic,” terangnya.

Dalam paparannya Dr. M Syamsuri, S.Pd, MT menyebutkan 4.0 membantu para pengguna teknologi menciptakan produk bisnis, membangun jaringan komunitas bisnis mereka secara lebih luas.

Menurutnya teknologi 4.0 membantu pengguna membangun nilai secara ekonomik, membantu membuka jaringan kerjasama yang bisa meningkatkan nilai tambah bagi bisnis mereka. “Selain itu, masyarakat 5.0 menuntut adanya exellent in Soft  Skill seperti kolaborasi, komunikasi yang baik dan perilaku yang baik terhadap sesama anggota masyarakat,” ujar Syamsuri.

Lebih lanjut Prof. Dr. Muhammad Said, MA juga sebagai narasumber  adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga Dosen Program Pascasarjana Magister Manajemen STIE Ganesha Jakarta. mengungkap bahwa perkembangan teknologi hari ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan estafet dari perkembangan peradaban manusia pada fase-fase sebelumnya, boleh dikata industri 1.0, industri 2.0, industri 3.0 dan sekarang 4.0. Karakteristik dari masing pencapaianlah yang berbeda satu dengan lain. 4.0.

“Bagi saya 4.0 is not standing alone out there, tapi bagian integral bahkan terinspirasi oleh kondisi perkembangan masa lalu yang dianggap tidak lagi selaras dengan perkembangan masyarakat moderen. Istilahnya, tiap masa ada penemuan yang berbeda, tiap penemuan memiliki karakteristik yang berbeda. 4.0 menuntut manusia bisa bekerjasama dengan robot, menguasai IT dan kemampuan komunikasi dalam bahasa asing,” terangnya.

Ia menambahkan, 4.0 menuntut  lembaga pendidikan tinggi meninggalkan pola tradisionil, merubah pola adminsitrasi manual menjadi online, investasi sumber daya manusia yang kreatif, mendorong pengembangan universitas berbasis teknologi, dan memperluas kolaborasi Internasional.

“Selain itu, 4.0 memunculkan cara baru belajar di Perguruan Tinggi dengan pola learning everywhere, learning is longlife, belajar dan bekerja adalah proses yang sama, kamous adalah organisasi belajar dan belajar melalui platform digital. Sedangkan 5.0 society menuntut keterbukaan terhadap perkembangan teknologi yang terjadi, sehingga impact yang dimunculkan memberi nilai tambah bagi kepentingan personal. Dan masyarakat 5.0 society menghendaki degradasi komunikasi sosial akibat IR 4.0 masyarakat yang saling menyapa, yang memanfaatkan data dari perkembangan teknologi untuk kemaslahatan yang lebih luas dan lebih kongkrit. 5.0 society telah melekat kuat pada masyarakat dengan kultur tepo saliro, tenggang rasa, gotong royong,” papar M Said.

Dalam konteks pendidikan 5.0 society di Indonesia harus tetap mengacu pada landasan kultural (budaya) Indonesia. Landasan sosiologis yang menghendaki masyarakat indonesia saling menjunjung tinggi harkat dan martabat setiap orang dan landasan lain dengan tetap bersikap inklusif pada perkembangan yang terjadi untuk kemajuan individual, masyakarakat, dan peningkatan daya saing bangsa dan negara,” imbuhnya.

Sementara itu Prof. Dr. Muhtar Latief memaparkan tentang Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Era  Revolusi Industri 4.0 menuju Era Society. Ia menyampaikan bahwa  semua kemajuan teknologi  mengajak audiensi untuk mengifentifikasi generasi mana dari tahap generasi yang ada Baby boobers, generasi x, generasi y, generasi z, generasi alpha.

“Baby bombers generasi yang diibaratkan sunset, matahari yang segera terbenam. Jumlah millenial hari ini mencapai 90 juta jiwa. Generasi Millenial 62.570.920 tenaga kerja,Generasi x 69.003.270 tenaga kerja. Sisanya adalah baby bombers yang mununggu detik detik terakhir dunia kerja,” ungkapnya.  Hadi

71 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *